oleh
Griven H. Putera
Jika tuan ingin terbang luncas, melayang bebas seperti unggas, berenang liar, berkuncah lincah laksana ikan-ikan, datanglah lekas-lekas ke kota kami. Hinggaplah cepat-cepat di bukit mungil kami. Mari kita menari, bernyanyi, bersyair dan berzikir bersama burung-burung, belalang, ikan-ikan dan bunga lalang dengan gendang lantang, tepukan ombak dan kecipuk jentik udang serta kepiting.
Ooi… tuan ingin jenguk kami? Ingin tahu pohon sejarah kami? Kami adalah turunan para pelaut yang terbang dan hinggap kapan kami mau. Yang berlayar dan berlabuh bila kami suka. Kalau kami hendak, kami akan terbang bergantung pada sehelai layang-layang yang melanglang ketika musim selatan tiba. Atau menumpang pada sehelai bunga lalang yang ditiup angin. Terbang ke sana kemari sesuka hati, berlayar dan merayau sepepak teluk dan tanjung tak punya kemudi. Dan kami yakin, takkan tersesat karena kami selalu punya kompas, punya pedoman pelangkah. Layang-layang kami bukan putus teraju. Kapal kami sesungguhnya taklah patah kemudi. Kami punya pancang yang takkan tercabut walau seganas apapun ombak yang akan mengguncang dan coba menjungkal kami. Kami tak takut badai.
Ketika musim badai selesai, kami segera tahu tanah kami, kami mafhum di mana pernah mencacakkan tiang kelong dan tiang rumah. Kami paham sangat di mana kami pernah melempar sauh dan memancangkan tonggak jaring dan tali rawai. Kami hapal benar kalau di tepian kami ini, di hadapan gunung besar bercabang tiga yang selalu diselimuti halimun itu, kami bakal istirahat melepas penat sekejap, menikmati malam beriramakan ombak yang sayup-sayup sampai atau sesekali ditingkai bunyi elang, jangkrik dan binatang bersuara merdu yang datang dari laut atau dari puncak bukit kecil di belakang rumah kami, yang meraung-raung seperti memanggil pasang. Kami tahu, matahari akan menjenguk kami esok hari dari bukit kecil yang melindungi kami dari ganasnya ombak selat Melaka nan selalu bergelora tanpa mengenal musim. Kami tahu, mereka; alam-gemalam adalah saudara kami, adalah kaum-kerabat kami yang tak pernah ingkar janji atau menyakiti kami walau hanya dengan sehelai cemeti. Kami tahu, hanya merekalah yang mengerti dan memahami kami. Kami yakin, tuan pun entahlah…
Kamilah pengarung berbilang negeri untuk sekedar bertukar cerita atau berbagi seimpi ikan yang kami asinkan atau kami tangkap di danau berair hijau di halaman rumah kami. Kamilah kafilah penjelajah kampung-kampung, menyinggahi tak terbilang pelabuhan di seluruh pesisir pulau-pulau nun sayup di sana, juga pulau suvarna dwipa [tanah emas] kata orang. Yang akhirnya konon, pada suatu masa dahulunya, kami pun pernah menjadi bagian dari tanah buruan kaum
penjajah yang berhidung patah itu.
Kami bukan turunan para lanun. Walau sebagian menyangka kami adalah zuriat para penyamun dan perompak di selat Melaka, di sudut timur pulau emas itu. Di sini perlu kami jelaskan sekali lagi; kami bukan cicit-piut orang bagak yang menenggelamkan kapal-kapal. Yang merampas harta-harta, yang membunuh manusia dan membuangnya ke tengah laut sebagai santap ikan. Kami bukan mereka. Andai tuan tetap berkeras hati menyebut kami zuriat para penyamun, biarlah. Tuan mungkin tidak salah. Kami memang telah mencuri hati tuan dan puan di negeri ini. Kami telah memakannya dengan sedap sesedap-sedapnya.
Kami tak bisa hidup, kalau sehari saja tidak memakan hati tuan dan puan. Hati tuan dan puan sama halnya dengan cahaya mentari bagi kami. Dan kami tak bisa tidur andai matahari tak mau lelap di pangkuan gunung bercanggah tiga di ujud mata kami memandang. Kami tak bisa diam kalau gelombang telah bertepuk memanggil kami untuk mengembang layar di laut. Kami tak bisa diam sejenak di kelong atau di rumah panggung kami kalau angin mulai bertiup kala bulan mulai senyum malu di gulita malam. Kami akan kembali ke habitat semula. Bergaul, bercanda mesra dengan bulan, dengan gelombang, angin dan asin rasa laut dan danau kami. Langit dan laut hitam adalah panggung agung kami untuk memainkan sejumlah sandiwara-sandiwara. Dan itu kami nikmati sejak dulu, sejak dulunya lagi. Mungkin sejak Sang Sapurba belum tiba dari Bukit Siguntang, yang menghilir di kuala Indragiri hingga melihat Gunung Lingga; bukit timangan kami. Dan kami tak akan berpisah. Di sini kami ada, di sini kami akan tiada. Dan kami tak peduli, dalam wilayah mana kami berada. Bagi kami bernegara, berprovinsi, berkabupaten ataupun tidak, sama saja. Rasanya, sejak dulu, kami bisa atur diri sendiri. Bahkan kami tak perlu pembawa cerita-cerita indah dan mimpi-mimpi kosong tentang nilai luhur sebuah bangsa dan segubal kitab filsafat dan ajaran nilai. Di negeri kami telah datang pembawa angin surga dari tanah nun jauh. Sebagian kami telah bersebati dengan intisari Budha Matrea. Dan kebanyakan kami pun telah memeluk erat kesempurnaan ajaran cicit Terah dari suku Akkadia, atau cucu Abram yang leluhurnya berasal dari Shem, leluhurnya biblis orang Semit. Kami yakin, kami dan tanah kami adalah jelmaan mimpi-mimpi Sarai dan Hagar istrinya Abram. Dan kami yakin, mimpi kamilah jelmaan Abram; ‘ayah yang luhur’ bagi semesta alam itu. Kami yakin Abram dan cucu dari ‘ayah yang luhur’ itu pernah singgah ke pulau mungil kami. Ya, setidaknya melalui ajarannya dan mimpi-mimpi kami tentang dia.
Tuan, yang paling kami rindukan kini hanyalah perahu dan kapal pesiar yang mengangkut beras, pisang, lada dan daun-demaun yang lain yang diangkut dari Pulau Kalimantan, dari Pinang atau dari mana saja saban pekan. Sungguh matan, bahwa kami lebih perlu beras, miehun, mie sagu, garam, lada, bawang putih, bawang merah dan merica daripada sebuah nama wilayah administratif yang tuan tawarkan. Karena tanah kami adalah sebuah negeri yang telah menyimpan mimpi sendiri, dan kami telah menamai kota kami secara sendiri.
Kamilah yang telah menanak nasib sendiri. Ya, kami telah bebas seperti burung dan ikan-ikan. Dan suatu saat kami punya keyakinan, kami akan dirindukan dan dijenguk oleh orang-orang yang merasa liar dan lincah hayal seperti kami. Orang-orang yang sama-sama punya impian dan idaman hati seperti kami. Orang-orang yang ingin mencium harum langit.
Oh laut, oh angin dan matahari, oh bulan dan gunung-gunung, sampaikan nyanyi kami…


seandainya laut, angin, matahari, bulan dan gunung-gunung bisa becakap.. ia akan merajut kata “senandung merdu kalian selalu ku dengarkan dan ku kabarkan sampai ke ujung dunia.” semoga tetap bisa terbang dan hinggap kapan kita mau
Dalam betul komentar Datuk niii…
“Lanjutkan !”, perintah inspektur upacara, dan Komandan Upacara pun melanjutkan serangkaian celoteh agung kebesaran cakrawala sampai bendera menerjang ujung tiangnya, dan matahari pun malu menampakkan dirinya, hehehehe