Home » Pena Gemala » Metropolitan?

Apa dasar walikota baru menyebut Pekanbaru sebagai metropolitan terhadap kota yang baru dia pimpin dalam hitungan minggu ini? Apakah sebuah obsesi? Atau sebuah rencana cetak biru dia ke depan? Atau hanya asal sebut, ketika hendak menyandingkan kota ini agar terkesan lebih besar dan maju berbanding dengan kota lain di Sumatera? Entah lah. Terkadang hanya latah-latahan. Sebab, ketika ihwal ini tiba di Dumai, dia menjadi sebutan yang sama juga, walau entah apa dasarnya.

Pekanbaru, dia tak lebih dari kota dari sebatang jalan, bernama Sudirman. Coba anda berhitung dan khayal; jika anda selaku warga kota ini hendak pergi ke Washington, Melbourne, Tokyo, atau Moskow yang teramat jauh itu, anda harus melewati jalan Sudirman. Begitu juga ketika anda hendak memutuskan bepergian ke Lubuk Jambi, Selatpanjang, dan Kuala Cenaku pun harus melewati jalan Sudirman. Nah dari mana anda harus menempel kata metropolitan pada kota ini? Dia tak lebih dari sebuah kota yang bersandar pada sebatang jalan.

Kemudian, coba kita telusuri anatomi jalan kolektor dan jalan lingkungan dalam kota. Semua garis jalan tidak hadir dengan garis yang tegas. Dalam istilah lain, dapatlah dia disebut sebagai efek pecahan jerawat. Seluruh jalan lingkungan, berstatus tergantung, tidak bersambung dengan garis-garis jalan utama dan garis jalan lingkungan berdekatan. Efek pecahan jerawat ini diperkaya oleh kehadiran sejumlah pengembang perumahan yang membangun kawasan perumahan yang dibatasi oleh marka pembatas bernama parit gajah atau malah tembok masif. Sehingga terbentuk kantong-kantong pemukiman yang terkesan mandiri, akan tetapi, sesungguhnya menggiring ke suasana ekslusivisme dan mengundang tindak kejahatan sosial dan kriminal yang tidak ada kawalan secara sosial dari warga kota.

bayang kota metropolitan
bayang kota metropolitan???

Kota, identik dengan kehadiran sejumlah orang yang bergerak dan berderap. Dia bukan persoalan sejumlah kenderaan yang berlalu lalang. Metropolitan itu, menyediakan banyak kawasan pejalan kaki yang selesa dan menyenangkan. Pedesterian yang besar, kawasan hijau yang menarik dan rimbun dalam suasana taman teduh-teduh. Alias, wilayah rekreasional atau riadah bagi warga kota, tersedia di bentang badan kota itu sendiri. Memiliki kawasan pemerintahan yang tidak berbaur dengan kawasan bisnis, kawasan pendidikan yang nyaman, kompleks olahraga yang anggun dan kaya oksigen. Selain itu, suka atau tak suka agar dia bisa memikul sebutan metropolitan adalah tersedianya kawasan industri yang tertata dan menyatu dengan jejari utama jalan lingkar [outer ringroad] kota. Selain itu, kawasan metropolitan itu hendaklah terhubung dengan garis-garis tegas dalam bentuk jalan yang lurus dan lebar ke pusat-pusat pertumbuhan dan industri yang berdekatan dengan pusat kota; untuk Pekanbaru kawasan industri yang berdekatan itu bernama Perawang, Minas, Pangkalan Kerinci, termasuk pula Pandau. Sehingga jarak antara kawasan industri itu dengan kota Pekanbaru, akan menyembul kawasan satelit pemukiman baru dan kawasan bisnis, dan hiburan baru yang disebut sebagai kawasan metropolitan. Dan ihwal ini telah ditunjukkan oleh kehadiran Jabodetabek untuk Jakarta, Mamasa untuk Makassar, Balmera untuk metropolitan Medan, Bandung Raya, demikian pula metropolitan Surabaya yang didukung oleh garis-garis tegas menuju Sidoarjo, Lamongan, Gresik dan Mojokerto.

Kita hanya pandai meniru bunyi: ketika orang menyebut metropolitan, kita menyebut juga dengan sentak yang sama. Kita lupa meletakkan posisi Pekanbaru dalam mata rantai “mejelis kota-kota dunia”. Dia bukan setakat kota di Sumatera, Riau dan Indonesia. Sejatinya Pekanbaru mestilah dipersepsikan dalam bidang dan rentang mata rantai “majelis kota-kota dunia” yang memikul tugas-tugas peradaban, sebagai tugas yang sama telah diemban oleh Roma, Paris, Casablanca, La Paz, Urfa, Istanbul, Mumbai, Teheran, Melbourne, Vancouver, Seattle, Edinburgh, Leiden, termasuk kota para Malaikat; Jerusalem, Makkah, Ayutthaya, Amritsar, dan sejumlah kota berbasis bisnis di dunia seperti New York, Sao Paulo, Sydney.

Lalu, Pekanbaru? Semua garis menuju Bangkinang dengan status bukan kota industri, bukan kota wisata, hanya sebuah kota kecil yang juga dilayari oleh sebatang jalan menuju hutan dan gunung….

[Yusmar Yusuf - Budayawan]

One Response to “Metropolitan?”

  1. yung dolah February 28, 2012

    statemen walikota baru dalam wawancaranya menurut saya hanya harapan dari seorang pemimpin. Tapi bukan berarti semua pernyataan tanpa alasan, perkembangan kota Pekanbaru saat ini sudah mengalami pembangunan yang signifikan. apalagi tahun ini riau menjadi tuan rumah pon 2012. saya yakin dengan segala mengoptimalkan segala sumber daya yang ada, riau akan menarik perhatian dunia. terlalu muluk2 sih klo mengharapkan perhatian dunia, paling tidak mata negara2 asia. saya sangat yakin riau akan mampu bersaing dalam pembangunan.

    Reply

Tinggalkan Komentar