Home » Profil » Yusmar Yusuf

Yusmar yusuf ketawa lagi

Yusmar Yusuf, lahir di Teluk Belitung, Bengkalis – Riau, 5 Desember 1961. Menamatkan SD Negeri No. 1 di Teluk Belitung (tamat tahun 1973), SMP Negeri Sungai Apit (tamat, 1976), dan SPG Negeri Bengkalis (tamat, 1979-80). Menyelesaikan Sarjana, Universitas Riau, Pekanbaru (1985). Meraih gelar Magister dalam bidang keahlian Psikologi Sosial Universitas Padjadjaran [1989] dan Doktor dalam bidang Sosiologi-Antropologi di Universitas Padjadjaran Bandung (1994). Sejak tahun 1985 sampai saat ini bertugas di Universitas Riau. Dosen tetap pada jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau. Dekan pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru (1995-1996).

Adalah seorang budayawan, pemikir dan intelektual terbilang yang bermastautin di Riau, dengan pikiran alternatif-kritis, terkadang paradoks dan “nyeleneh” serta di luar kelaziman, dan anti kemapanan, di luar tradisi arus perdana [mainstream]. Bagi kalangan budayawan dan seniman rantau Melayu, dia bak makhluk Eropa yang dilahirkan di tanah Melayu, yang menguasai pemikiran klasik Yunani-Helenik, Eropa klasik hingga modern. Mengkritisi semua hal, karena apapun hal memerlukan “pemeriksaan”, termasuk perihal manusia dalam mempersepsikan Tuhan dan agama. Juga seorang penggemar, pelaku dan pencinta musik jazz. Penulis lirik lagu-lagu jazz, peneraju kumpulan jazz Geliga yang menelurkan album-album jazz-Melayu yang dijadikannya sebagai instrumen ‘dakwah’ kebudayaan. Pendiri Radio Geliga di Batam [2002], pendiri Semenanjung TV di Batam [2004]; dan menjalani kehidupan dengan cara dan rasa “jazz” [jazzy]. Melanglang buana ke ceruk dan suak kampung serta hutan dan sesungai, mendaki gunung, menelisik kayu-kayan dan ragam biota. Peziarah ruang-ruang purba Melayu di tanah Andalas dan menyulam persaudaraan Sumatra dengan beragam suku bangsa Sumatra dan Kalimantan melalui ’jalur musik alternatif’ dan gerakan ”kebudayaan Pan-Sumatran-Borneo”. Di kalangan budayawan dan seniman, dia dipanggil sebagai ’munsyi’, ’kalipah’ kebudayaan Melayu dengan prinsip-prinsip kesemestaan dan menjulang semangat inklusivisme Melayu, jembatan bagi kelompok minoritas karena yang dijulang dalam prinsip hidupnya adalah mankind [kemanusiaan].

Melayu harus ditempa lagi oleh kerasnya lindasan panas dan hoyak zaman yang centang perenang, yang berlangsung terus dan terus hingga jamaah Melayu benar-benar cemerlang lagi di masa datang.

[Griven H. Putra]
Melayu dan Topi Professor

Keberadaan diri (eksistensi) Melayu ataupun yang sering disebut Marwah Melayu itu pun akhirnya akan muncul dengan sendirinya ke permukaan yang tanpa harus menyebut-nyebut kesana-kemari menggunakan corong-corong pengeras suara di pentas. Marwah itu akan muncul karena usaha dan kerja keras oleh puak Melayu sendiri, bukan meminta-minta bahkan tak perlu melalui sebuah SK dari Jakarta.

Tommy F. Awuy, dosen Filsafat Universitas Indonesia menyebut Yusmar Yusuf adalah seorang fenomenolog sejati yang konsisten dari Riau, di Filipina, para mahasiswa St. Thomas University memanggilnya dengan sebutan ”The Romantic Philosopher”. Sedari kecil bercita-cita menjadi Menteri Luar Negeri, walau kenyataannya berbelok di tengah jalan; sejak mahasiswa rajin menikmati dan mengumpul tulisan-tulisan fenomenologis Pater MAW Brouwer, dan berguru langsung dengan Pater tentang Psikologi Fenomenologis dan Filsafat Sosial, di luar kuliah formal, selama di Bandung. Persahabatan yang luas itu bersenggol langsung dengan Mursyid [Tuan Guru] Tariqat Naqsyabandiyah di ’Kampung Langit” Babussalam, Langkat, pantai timur Sumatera. Penikmat kebudayaan Batak, yang dilihatnya bagai sebuah gelombang peradaban perdana yang tersisa di tanah Sumatra dengan ’pengucapan-pengucapan’ arkhaik.

Selain seorang pengajar, tunak pula berkhidmat di banyak bidang dan cara, di antaranya sebagai: Kepala Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu (P2BKM) Universitas Riau (1993 – 2003); anggota dewan penyunting lembaga penerbitan Unri Press (1995-1996); penyunting ahli pada Jurnal Sosiologi Reflektif UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; anggota konsultan pada Biro Konsultan Pengembangan Wilayah, Jakarta (1992); pemimpin redaksi Jurnal Kebudayaan Dawat; Ketua I Dewan Kesenian Riau (1998-2000); Penasehat Dewan Kesenian Riau (sampai sekarang); pengasuh ruang konsultasi Psikologi di harian pagi Riau Pos (1993-1994); konsultan pada Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (Pusdatin Puanri); Pengarah Festival Film Indonesia (FFI 2007); dan kolumnis tetap Perisa di Riau Pos edisi Ahad (1992 sampai sekarang); serta menulis di berbagai media lokal dan nasional. Tulisan-tulisannya meliput segala bidang ilmu sejalan dengan keluasan bacaan, endapan pengetahuannya dengan gaya fenomenologis.

Sejak tahun 1988–1992 mendalami studi intensif bahasa dan kebudayaan Belanda di Erasmus Huis, dan ekstensif bahasa Jerman di Goethe Institut, serta kursus sejarah musik Klasik dan Barok di Pusat Kebudayaan Jerman. Sampai sekarang terdaftar sebagai anggota Ikatan Pengajar Bahasa Belanda (IPBB-Erasmus) cabang Bandung, dan pernah sebagai anggota Asosiasi Ahli Cina, Jakarta (1993-1994), sejak 1995 duduk sebagai anggota Dewan Melayu Sedunia yang berkedudukan di Kuala Lumpur, anggota Ahli Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kawasan Selatan (Johor Bahru, 2003-sekarang). Penasehat KADIN Riau 2011-2016; Anggota Center for Tropical Peatswamp Restoration and Consevation- Indonesia; 2011-sekarang.

Melakukan penelitian di bidang akademik, kemasyarakatan serta kebudayaan Melayu, termasuk komunitas orang asli (Sakai, Talang Mamak, Bonai, Orang Laut di Riau, dan Dayak di Kalimantan Barat). Anggota Majelis Tinggi Masyarakat Adat Suku Jering, Bangka (Bangka Belitung). Juga sering diundang membentangkan makalah dan mendakwahkan pemikiran serta mengadakan perjalanan budaya ke beberapa kawasan di Indonesia serta serantau negara-negara di Asia, Afrika dan Eropa, seperti Afrika Selatan, Republik Mauritius, Madagaskar, Rusia, Prancis, Belanda, Belgia, Jerman, Italia, Cina, New Zealand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, dan Laos.

Menyelenggarakan berbagai peristiwa kebudayaan, di antaranya: Pertemuan Rupat (1997); Daik Bunda Tanah Melayu (1999); Dialog Rempang (2000); Pertemuan Alam dan Pemikiran Melayu Sedunia di Batam (2001); Kenduri Seni Melayu Sedunia di Batam (2002); “Sayang-Sayang Selat” di Bengkalis-Selat Panjang-Dumai (2001-2003); Malacca Strait Jazz Festival di Pekanbaru (1996-sampai sekarang).

Sampai saat ini, suami dari Erlina dan ayah dari Vanya Amalia Muthia [mhs. Teknologi Pangan IPB], Avliya Quratul Marjan [mhs. Ilmu Gizi, IPB] dan Muhd. Urfa Hunaufalkhair [pelajar TK], tetap dikenal sebagai ‘pendakwah kebudayaan’ Melayu ke ceruk negeri dan serata dunia. Berkat perjuangan kebudayaan yang terus ditunai dengan kedalamanan ilmu, ia diganjar Anugerah Sagang sebagai Seniman dan Budayawan Pilihan tahun 2005.

Telah menulis dan menerbitkan 12 buku, antara lain: Dinamika Kelompok (Armico Bandung, 1989); Psikologi Antar Budaya (Remaja Karya, Bandung, 1991); Percik Air dan Peradaban – disunting bersama AZ Fachri (Unri Press, 1995); Riau Sekuak Rentak [1997]; Gaya Riau: Sentuhan Fenomenologis Budaya Melayu di Tengah Globalisasi (P2BKM Universitas Riau, 1996); Universitas Riset (Unri Press 1996); Cewang di Negeri Pagi (P2BKM Universitas Riau, 2001); Batam Karena Bulang (P2BKM, 2001); Saujana Senja, Detak Batam Melayu Bangkit (Komunitas Angin Taung, 2002); Melayu Juwita, Renjis Riau Sebingkai Perisa (Wedatama Widya Sastra, Jakarta, 2006); Studi Melayu (WWS, Jakarta, 2008); Langit, Melayu, dan Aras Mustari, -Wisata Pikiran dalam Percikan Langit- (Riau Jazz Turbulence, 2009); dll. Tulisan berupa serpihan dari Disertasi Doktor-nya diterbitkan Majalah Prisma, LP3ES Jakarta (Desember 1994) berjudul: Baba-Tauke dan Awang-Melayu: Relasi antar Etnik di Riau.

Atas seluruh dedikasi sepenuh hati setulus jiwa dalam rentang waktu yang panjang, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Studi Masyarakat Melayu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau, Pekanbaru, dan dikukuhkan pada 29 April 2010. ***

[Biodata ini disediakan oleh Samson Rambah Pasir, seorang seniman, penulis novel prolifik di Batam, Kepulauan Riau].

Tak membesar-besarkan, tetapi akan besar dengan sendirinya dengan usaha dan kerja keras.

Yusmar yusuf ketawa lagi

2 Responses to “Yusmar Yusuf”

  1. Di Tanah Bunda Bahasa Melayu (Pantai Barat Borneo) Nama Yusmar Yusuf sudah tidak asing lagi, terlebih di telinga para budayawan. Bagi kami beliau benar-benar ‘Pahlawan Melayu Tanpa Tanda Jasa’, beliau akan memberikan ilmu yang beliau miliki dengan tulus dan serius kepada siapapun yang ingin benar-benar bertanya / belajar dengan cara yang seharusnya, namun jangan sekali-kali mempertanyakan atau mencoba ‘mengukur ajar’, tau sendiri akibatnya, hehehe…
    Jika anda sampai hari ini belum merasa menemukan JATI DIRI anda, silakan berkonsultasi dengan beliau atau minta waktu luang beliau mengisi sebuah SEMINAR mengenai hal itu (syarat dan ketentuan berlaku), INSYA ALLAH tidak hanya JATI DIRI yang kita temukan, kita akan merasa sedang berada di dunia yang berbeda, tentunya di dunia yang diimpikan setiap manusia berakal dn berilmu.
    Tak perlu harus berpakaian Melayu (tallok belangak’), juga tak ada syarat harus ‘beriddong piccak’ maupun ‘begiggi rongak’, apalagi harus membawa ‘lassong tabbok / tambok’.
    Cukup didengarkan dan diperhatikan serta jangan lupa membawa tissue atau sapu tangan (untuk mengelap air liur yang tak terasa menetes setelah mengaga terlalu lama).
    Bagi yang mengidap sakit jantung tak perlu takut terkejut oleh tepuk tangan keras hanya di awal dan akhir acara, karena tepuk tangan akan selalu bergemuruh tak terhitung jumlahnya selama beliau berbicara.
    Jika ingin mencari warna yang berbeda, pilihlah narasumber lainnya yang akan satu meja dengan beliau se-selektif mungkin, karena banyak professor kacangan di negeri ini yang enggan satu meja dengan beliau karena ibarat pepatah ‘menyerah sebelum berperang’ atau ‘mati akal’ ada juga yang takut ‘kalah pamor’.
    Terima Kasih Ayahnda, hanya Allah SWT yang dapat mebalas PENCERAHAN yang Ayahnda berikan bagi kami…

    Reply
  2. segala tunjuk ajar tetap tetanam di isi hati yang teramat dalam, terime kasih prof

    Reply

Tinggalkan Komentar