Home » Pena Gemala » Sanjung dan Puji

Secara sederhana, dalam terminologi Islam, sanjung dan puji itu dikenal dengan istilah “hamd” dan “tsana.” Dan menurut ilmu tauhid yang ditelisik dari beberapa kitab Islam klasik, segala puji dan sanjung itu hanya untuk Allah Swt. semata. Dan hanya Dialah yang patut disanjung dan dipuji oleh seluruh makhluk. Maka terjemahan ayat pertama atau ke dua dalam surat al-fatihah yang berbunyi: “alhamdulillahi rabb al-alamien” itu bermakna: semua, segala, seluruh bentuk puji dan sanjung hanya milik Allah Swt. pendidik, pengatur alam raya semata.

Terjemahan ayat di atas menyiratkan bahwa, memang puji dan sanjung itu sebenarnya tunggal hanya milik Tuhan saja. Dan yang pantas dipuji dan disanjung di mana dan dalam kondisi apapun hanya Dia, karena Dialah yang maha segalanya. Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Melihat, Maha Agung, Maha Mulia dan Maha Segala-galanya.

Jika ada makhluk yang gila sanjung dan puji, maka ia telah lupa siapa dirinya. Andai ada manusia yang gila puji, gila sanjung dan gila penghormatan, maka ia telah lari dari kodrat sejatinya sebagai manusia. Ia ingin melampaui kodratnya yang asasi itu. Ini sungguh amat berbahaya!

Ia telah lupa petuah Nabi Saw; bahwa manusia itu merupakan wadah salah dan khilaf. [al insan mahillu al-khatha’ wa al-nisyan]. Karena sangat faham dan sadar itulah, maka sebagian kaum sufi sering menyebut diri mereka sebagai ‘abd al-faqir wa al-dhaif ila Allah. Karena sadar itulah maka khalifah Umar bin Khattab mengatakan, siapa yang memujiku di depanku maka akan aku lempar mukanya. Kalau tak khilaf, karena mafhum itulah, setelah balik merantau menimba ilmu maka Abu Yazid Albusthami membatalkan puasanya di depan orang ramai yang hendak menjadikannya sebagai ulama panutan yang mungkin di mata orang ramai itu akan melebihi nabi. Setelah melihat Abu Yazid dengan santainya membukakan puasa, orang kampungnya berbalik menjauhi Abu Yazid karena tak mungkin menghormati orang yang membukakan puasa Ramadhan tanpa uzur. Abu Yazid senang sekali melihat kesal dan marahnya orang-orang yang akan menyanjung-nyanjung dan memuja-mujinya itu.

Seorang ulama besar seperti Abu Yazid pun belum mampu melawan dahsyatnya pengkultusan. Kita? Siapakah kita dibanding Abu Yazid [tokoh sufi besar] yang dengan konsep al-fana’, al-baqa’ dan al-ittihad-nya pernah mengguncang dunia?

Sekali lagi. Kenapa manusia tak boleh disanjung dan dipuji? Karena di ujung puji dan sanjung itu akan berbuah kultus. Orang yang memuji itu sebenarnya mendekatkan diri orang yang dipuji ke lembah hina yang hakiki, bukan hina yang mulia yang sesuai dengan kesejatian kemanusiaan. Akibat sanjung dan puji banyak orang lupa diri.

Mahkota Raja

Mahkota

Kebanyakan manusia kini, tanpa sadar sudah terjebak pada jalan panjang menuju pengkultusan dan kehinaan hakiki itu. Contohnya, sebagian manusia kalau sering mendapat puji dan sanjung akan muncul ujub, sum’ah dan kibir dalam dirinya. Ia akan sangat tersinggung kalau suatu hari ada orang merendahkannya. Padahal orang yang merendahkannya itu hendak mengembalikan ia pada dirinya yang asali. Ia lupa diri kalau dirinya memang bukan siapa-siapa. Dan ia telah alpa benar kalau semakin merasa hina dan berdosa ia, maka sebenarnya semakin tinggilah derajatnya di mata Tuhan. Itu makanya, Tuhan selalu memerintahkan manusia untuk bertobat walaupun ia masih belum aqil baligh [belum dituntut beban syariah, belum berdosa].

Diulang lagi. Tak bolehnya selain Allah Swt. memakai dan mendapat pujian berlebihan itu karena menyangkut ihwal siapa manusia itu sebenarnya. Pada manusialah tempat kehinaan dan kepapaan, karena salah-satu anasir kejadian maha penting manusia adalah tanah liat kering yang berasal dari lumpur hina [min shalshalim min hamaaim masnun] Surat al-hijr ayat 28.

Walau pun manusia telah diberi Tuhan pangkat sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Tapi itu sesungguhnya menempatkan manusia hanya jadi pelayan Tuhan [‘abd Allah] untuk menata alam semesta sesuai kehendak-Nya. Bukan semau nafsu busuk syaitan dan hayawan yang bergelora dalam batin manusia. Manusia tidak pernah mutlak berkuasa melakukan apa saja sekehendaknya. Karena itu jualah maka khalifah pada pemerintahan Bani Abbasiyah mengirim hadiah kepada orang yang telah memburuk-burukkannya. Tuan khalifah bahagia karena rakyatnya telah menyadarkannya. Hari ini, di negeri ini, siapakah pemimpin yang senang dikritik rakyatnya?

Justru hari ini, fenomena yang menggejala malah banyak pemimpin atau tokoh [merasa tokoh atau memang ditokohkan] yang gila puji, gila sanjung dan gila penghormatan. Mereka amat fobia terhadap kritik. Demi mendapat pujian, sanjungan dan penghormatan yang berlebihan mau melakukan segala hal. Buat ini dan itu untuk menarik perhatian orang. Lakukan itu dan ini demi minta pengakuan kalau ia seorang tokoh yang telah berjasa dalam bidang ini dan itu. Itulah kerjanya saban hari. Bagi mereka, tiada hari tanpa ingin dipuji, disanjung, digelari dengan ini dan itu. Kalau tak ada lagi yang bisa dibuat, maka dibuatlah hari mengenang ini dan itu. Mengenang usia perkawinankah. Mengenang berapa umurnyakah. Mengenang istrinya yang telah balik ke alam baka, kah. Atau mungkin suatu saat nanti bakal dibuat pula mengenang kapan Malaikat Izrail dan Munkar dan Nakir akan mendatanginya. Kalau melakukan seremonial berlebihan untuk melakukan opsi yang terakhir itu, syukurlah. Ia mudah-mudahan akan beruntung [husn al-khatimah]. Amin. Afwan. Wallahu a’lam.
Ya Allah, beri kami petunjuk-Mu selalu…

Ditulis oleh :
Griven H. Putera

Belum ada komentar.. Jadilah orang pertama :)

Tinggalkan Komentar