Bantahan Gubernur Riau atas pemberian nama Tugu Zapin pada sebuah tugu di titik nol Pekanbaru yang berada di depan Kantor Gubernur Riau, menjadi bahan perbincangan tak sedap di masyarakat. Bukan sahaja dari masyarakat bawah, perbincangan tak sedap pun beredar dari masyarakat pendidikan, politikus, mahasiswa dan sebagainya. Diperbincangkan di kedai kopi, cafe, restoran di hotel, bahkan di kantor-kantor.
Suatu hal aneh yang masyarakat lihat ketika melewati depan kantor gubernur, dimana terpacak tugu yang disebut Tugu Zapin. Tugu yang dirancang oleh seorang seniman Bali, I Nyoman Nuarta, yang tinggal di Bandung. Untuk kesenian Bali, dia adalah salah satu maestro. Apalagi dia terkenal karena pembuatan patung raksasa dari bahan tembaga Garuda Wisnu Kencana di bukit kapur Bali Selatan.
Tetapi, ini Riau bli! (abang). Bli Nuarta tak mengerti tentang Zapin. Bli Nuarta boleh tau tentang seluk beluk tembaga ataupun perak, maupun segala ujung pangkal kesenian Bali yang disebut masyarakat internasional sebagai kesenian yang eksotis. Terserahlah jika mereka mau menyebut begitu.
Tugu Zapin
Rancangan Tugu Zapin
Masyarakat Melayu tak pernah mau menunjuk-nunjuk besaran pantat perempuan yang tenggik tak tentu arah. Tarian Zapin tak pula selalu mencerminkan tangan lelaki yang hendak menampar, dan si perempuan pun hendak menangkisnya. Masih banyak gerakan-gerakan bagus yang mencerminkan keindahan dalam tarian Zapin.
Tugu Zapin ini memiliki ketinggian 7 meter ini berbahan perak dan tembaga mencerminkan bujang dara penari Zapin menurut Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PU Propinsi Riau, Joni Amdani (www.sungaikuantan.com). Sebagai kontraktor ditunjuk PT. Citra Mutiara Bumi Riau dengan anggaran 4,497 milyar. Awalnya masyarakat sudah menolak pembangunan Tugu Zapin tersebut. Lokasi tugu ini dahulunya adalah Tugu Pesawat Terbang sebagai perlambang perlawanan masyarakat Riau atas penjajahan. Tetapi, pesawat terbang itu telah “take-off” dan kemudian “landing” di depan Gedung Juang 45 Pekanbaru yang akhirnya mempersempit areal parkir gedung tersebut.
Ntah nama apa yang akan diberikan gubernur untuk mengganti nama Tugu Zapin itu. Masyarakat telah mencap tugu zapin itu sebagai TUGU KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) mengingat tangan patung lelaki seakan-akan mau menampar patung perempuan.
Tugu yang aneh. Sungguh bentukan seni yang tak terterima oleh masyarakat.
[Attayaya]
[Tulisan Tugu Zapin ini dibuat setelah membaca tulisan Yusmar Yusuf di Riau Pos Minggu, 15 Januari 2012 seperti yang tercantum di bawah ini]
*****
Zapin Megun
[Yusmar Yusuf]
Pintu besarnya bernama kaki. Menari itu ialah peristiwa kaki yang bergerak, mengalir dan mengalun. Mata kaki, ujung kaki, keliuk lutut dan putaran kaki yang bersiku. Ketika orang menjatuhkan pilihan untuk menari, maka dia meninggalkan ‘’alam mata’’ [pandang optis], berubah secara deras ke ‘’alam telinga’’ [dengar akustis]. Lewat telinga, gerak kaki dituntun oleh irama bebunyian yang kemudian dikemas menjadi musik pengiring. Mata tak berfungsi dalam tari. Maka, ketika orang menari, gerak kaki adalah irama, dan irama itu sendiri adalah gerak kaki.
Ketika dia dibekukan dalam setunggul tugu, zapin yang sejatinya diambil dari kata dasar [Arab] ‘’zafana’’ yang berarti gerak kaki, sama sekali tak meneteskan gerak kaki itu. Yang lebih dikedepankan ialah serangkaian atribut lelaki dan perempuan Melayu melalui sejumlah penanda; berkopiah, berbaju kurung. Dan gerak kaki pun dikiamatkan dalam hukum tapak sebuah bangunan [dia harus massif dan terkesan dinamis]. Dan kaki itu pun hanya terhidang di dalam ‘’kantong’’ ingatan dan persepsi individu yang melihatnya. Maka, rancangan tugu atau monumen yang dihajatkan menjadi ikon sebuah wilayah kebudayaan, yang semestinya bisa didatangi dari tiga sisi, berdasarkan kedatangan arus kenderaan dan orang-orang yang bergerak, malah dia menjadi sajian tugu yang satu dimensi. Hanya dinikmati dari kediaman penguasa. Sejatinya dia berdimensi tiga, sebab dia terletak pada medan persilangan tentang kedatangan dan kepergian orang dan sejumlah kenderaan yang bergerak.
Jika anda datang dari selatan, bokong lelaki menjadi tembok pembatas pandang tempat sejumlah mata semestinya hinggap. Sebaliknya jika didatangi dari utara, maka pinggul penari perempuan pula yang menyergah. Yang paling aman dan terkesan cahtcy hanya ketika didatangi dari timur; penampang sosok [katanya penari itu] nampak dengan jelas dan benderang. Namun jika diurai secara detil, sang perempuan seolah tengah menyusun kuda-kuda terkejut untuk sebuah peristiwa membela diri [silat Pangean hehe]. Posisi perempuan yang berada agak ke bawah, terkesan, pepatung ini mewakili ekspresi kekerasan dalam rumah tangga. Selanjutnya, monumen ini pun populer di kalangan seniman kritis menyebutnya sebagai monumen atau tugu kekerasan dalam rumah tangga [tugu KDRT].
Apa yang hendak disampaikan oleh kebekuan ini? Dia berada pada titik zero ground atau kilomenter nol sebuah kota yang mengklaim sebagai kota pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Ihwal monumen, sejati didatangi dengan rasa, sehingga suguhan hasilnya menghasilkan rasa pula. Kita bermimpi, ketika bundaran ini dikandang oleh lingkaran seng selama masa konstruksi, bahwa yang bekerja di dalam kandang itu adalah sejumlah seniman yang memikul dan menjinjing hati.
Rupanya sejumlah tukang, yang diberi tenggat masa pengerjaan. Kita juga bermimpi, pekerjaan ini menuntut kehalusan karya, bukan keterburuan kerja. Maka berkumpullah sejumlah tukang, dan mereka menukangi karya yang dianggap masterpiece dari seorang maestro patung Indonesia. Kita bangga, karya maestro yang kuat perspektif, garis dan dimensi. Namun, hati kita menjadi lapuk, ketika lempengan kandang seng yang bundar itu dibuka. Betapa terkejutnya kita menyaksikan kekasaran dan kekerasan pekerjaan fisik dan konstruksi sebuah monumen yang diletakkan pada titik zero ground itu. Hilang maya, tak bersemangat, mati pucuk, mati pandang dan mati rona.
Sejatinya dia menjadi tumpuan mata, malah sekarang orang mengelak untuk menghinggapkan mata di atas sejumlah bebatuan yang pucat pasi. Jika didatangi dari timur, dia menjadi tugu yang gerhana dari pewarnaan. Karena warna backdrop [bumbungan selembayung] kantor gubernur ikut menelannya. Maka berwajah pucat pasi lah tugu ini di tengah kerimbungan warna dan hiruk pikuk bebunyian yang bersilang. Yang lebih membuat lelah, pada radius 400 meter dari titik ini, berserakan tugu-tugu yang dihadirkan dalam semangat festival para tugu. Maka kawasan ini disebut sebagai ‘zona tugu’; tugu selais, tugu zapin, tugu PON [countdown], tugu perjuangan dan tugu keris [diponegoro]. Wujud ambisi para pemimpin melakukan parade kuasa melalui kehadiran sejumlah tugu. Kawasan yang bisa disebut sebagai headquarter [perkampungan] para tugu. Padahal bangunan gigantis dan menjulang yang ada di sekitarnya, pada prinsipnya adalah tugu itu sendiri. Mereka seakan tak percaya dengan kehadiran gedung perpustakaan [sebagai satu monumen], perkantoran di kompleks gubernur, gedung Menara Dang Merdu, Gedung Surya Dumai dan sejumlah gedung tinggi hotel, adalah penanda atau landmark [mercu tanda] dalam wujud yang lain.
Birahi membangun tugu yang ditumpukkan pada satu titik yang amat berdekatan, memperlihatkan kualitas warga dan pemimpin kota. Begitu sesak dan kemaknya pemikiran yang bergelayut pada pemikiran para peneraju kota atau provinsi ini. Kota ini menjadi medan perlombaan kuasa para penguasa yang berhati beku dan memekakkan kuping dari segala eksprimen tinggi seni instalasi. Dia menganggap kekuasaan yang ada di tangan, seolah dia berkuasa pula pada ‘’rasa seni’’. Seni itu memang naluriah, namun dia dipelajari demi memperkaya dan memperindah kehidupan. Tahu tentang medan toleransi ekologi, toleransi ruang, jarak pandang, pewarnaan, garis dan sejumlah elemen ikutannya. Jika tidak, dia hanya sejumlah barang yang bernilai tinggi, namun ditumpukkan pada sebuah gudang. Bisa dengan cara menyerak atau pun menumpukkannya secara berlapis-lapis. Dia kehilangan rasa dan tak memberi rasa bagi yang melihat dan menikmatinya.
Walhasil, segala ikhtiar kebudayaan dan kesenian yang kita serakkan di permukaan taman kota, atau pada sebatang garis jalan premium sebuah kota, dia tak lebih dari sejumlah sampah dan kotoran. Menghabiskan aggaran yang teramat besar, namun tak tahu menyusunnya pada sebuah outlet dan selasar sebuah gerai, maka dalam sekejap dia berubah sontak menjadi sampah. Begitulah, tugu zapin itu menjadi sampah mata bagi warga dan para pendatang yang bertandang ke pusat kebudayaan Melayu. Pusat kebudayaan murahan…
Gambar dari :
Riaupos.co.id
RiauTerkini.com
Skycrapercity.com




terlalu didramatisir. terlalu berfikir negatif , dan lucunya orang-orang yang berkomentar dan berkoar-koar itu kenapa baru sekarang??? kenapa tidak saat sebelum pembangunan??? aneh kan? cari muka yaa??
sejumlah kota-kota di Indonesia, yang paling menghargai seni dan budayapun juga banyak yang menempatkan patung-patung manusia menjadi tugu. Kota-kota di Sumatera aja lah yang notabene bermayoritas beragama Islam, banyak tuh patung manusia , lagi menari, patung selamat datang.
Di jakarta saja, bahkan ada tugu2 patung lelaki yang nyaris byugyil dibangun pada zaman era Soekarno yang harga dan biayanya jauuuuuh diatas rata-rata , tidak pernah sampai dipermasalahkan bahkan sampai ke MUI ,
sungguh sebuah tugu yang tak berguna, sangat memboroskan dana.
Apalah arti tugu yang tak mencerminkan ke-Riau-an?
Ini Riau bang!
Bukan jakarta atau daerah lain.
Tugu Zapin Pekanbaru Dianggap MeLecehkan Budaya Melayu
http://id.berita.yahoo.com/tugu-zapin-pekanbaru-dianggap-lecehkan-budaya-melayu-060730800.html
Dian Sukheri
ini ada juga di melayuonline
http://melayuonline.com/ind/news/read/14480/tenas-tugu-zapin-tak-cerminkan-nilai-melayu
Tugu zapin tak cerminkan budaya melayu
http://www.suarariau.com/suara-nasional/74-suara-nasional/1438-gubri-diminta-jangan-malu-sebut-tugu-zapin
Sebut ajalah kawan. Ini tugu apa. Tak usah malu. Tak usah ragu.